WAROYJOHN.COM

"BLESS TO BE BLESSED"

PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK

K O N T E K S

Tafsirkanlah Kata-Kata dan Bagian-Bagian Alkitab Berdasarkan Konteksnya.

Dari segi yang lain dapat dikatakan; kita harus selalu melihat konteksnya ketika ingin mengerti suatu ayat atau bagian. Konteks biasanya berarti ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat atau bagian yang kita pelajari.

KONTEKS secara murni berarti:

  • KON  (yang mengerti) dan
  • TEKS (bagian yang kita pelajari)

atau ayat-ayat yang menyertai teks yang kita pahami.

Kemungkinan besar saudara sudah menghafal beberapa ayat tanpa kesadaran bahwa ayat itu hanya sebagian dari suatu kalimat atau paragraf yang lebih besar, misalnya; Roma 3:23*. Sebenarnya artinya yang lengkap tidak dapat dimengerti tanpa membaca ayat seluruhnya. Apa lagi, mungkin kita pernah menghafal satu janji dari Tuhan tanpa melihat bahwa di dalam ayat sebelumnya atau ayat sesudahnya ada syarat yang mengikuti janji itu seperti di kitab Yesaya 58:11* “TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuasakan hatimu di tanah yang kering …”. Tetapi perhatikan di dalam ayat ke-9 dan ke-10 bahwa “apabila engkau…” dipakai dua kali.

Sering satu perkataan berbeda artinya dalam beberapa bagian Alkitab. Kata “Iman” bisa dipakai sebagai contoh. Di dalam Gal 1:23* Paulus menulis, “ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya”. Di sini “Iman” berarti- doktrin Alkitab. Di dalam surat Roma Paulus menulis, “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman” (Roma 14:23*). Menurut konteksnya, iman disini berarti-keyakinan bahwa Tuhan menghendaki demikian. Dalam nasihat Paulus kepada 1Timotius 5:11-12* tertulis, “memungkiri kesetian mereka yang semula  kepadanya”. Dalam terjemahan lain kesetiaan disebutkan sebagai iman, yang berarti-satu niat atau janji kepada Tuhan.

Lihat contoh “Darah”. Khotbah Paulus di Atena dalam Kisah 17:24-26* mengatakan bahwa “dari satu orang” yang dalam terjemahan lain dikatakan “satu darah”. Dalam Efesus 1:7*, “Darah” mempunyai arti penebusan Kristus untuk kita. Dalam Ibrani 9:7* “Darah” mempunyai arti cairan dalam nadi darah binatang. Jadi, konteksnya sangat mempengaruhi artinya bagi setiap perkataan.

Alkitab diterjemahkan dari tulisan asli. Dulu tidak dipakai titik atau koma. Pasal-pasal dan ayat-ayatpun tidak dipakai dalam tulisan asli. Jadi, kita harus mengingat itu pada waktu mencari arti satu perkataan atau bagian Alkitab. Kita harus rajin mempelajari konteks setiap perkataaan.

Penerapan dari prinsip ini di dalam mempelajari Alkitab secara pribadi seharusnya menjadi kebiasaan. Biasanya konteksnya akan memberi keterangan mengenai arti satu kata atau bagian yang dipelajari.

Langkah-Langkah Dasar :

  1. Memperhatikan ayat yang dipelajari dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan artinya.
  2. Membaca ayatnya beberapa kali bersama dengan konteksnya, satu-dua kalimat atau paragraf.
  3. Mempelajari kalimat/paragraf (konteks) dengan lebih teliti.
  4. Mengamati kata-kata atau istilah-istilah yang diulangi atau ditekankan dalam konteksnya.
  5. Menjawab pertanyaan: Apakah arti ayat ini dalam konteksnya?

D E F I N I S I

Tafsirkanlah Kata-Kata Selaras dengan Definisi yang Benar.

Artikanlah perkataan-perkataan Alkitab sesuai dengan artinya pada masa penulisannya. Kata-kata adalah buah dari pikiran, perkataan, dan komunikasi, dan dengan demikian kalau digabung dengan kata-kata yang lain menjadi bahasa yang berarti. Cara komunikasi yang paling utama yang dipakai semua manusia adalah bahasa. Di dalam Alkitab, Allah memakai bahasa manusia untuk berkomunikasi dengan kita. Tetapi persoalan yang pertama adalah, apakah definisi suatu kata yang dipakai di dalam Alkitab tetap sama pada zaman sekarang. Banyak kata mempunyai lebih dari satu arti, dan kadang-kadang tidak jelas kalau melihat kata itu sendiri.

Sering penulis sendiri memberi artinya. Dalam Yoh 2:15* tertulis bahwa Yesus membuat cambuk dan mengusir penukar-penukar uang dari Bait Suci. Orang Yahudi tidak suka perbuatan Yesus itu dan berdebat dengan Yesus. Yesus menjawab mereka “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Yoh 2:21* mengatakan, “tetapi yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah ialah tubuhNya sendiri”. Di sini Yesus memberitakan arti perkataan “Bait Allah”. Tetapi Yohanes tidak menerangkan siapa penukar uang itu dan apa pekerjaannya. Kita harus cari keterangan itu sendiri.

Rasul Paulus menafsirkan/menjelaskan arti dari kata “aku” di dalam kesaksian mengenai kesusahan-kesusahan yang ia mengalami. “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Roma 7:18*). Kata “aku” dapat berarti kehendak, intelek, manusia rohani, atau manusia jasmani. Ataupun kata tersebut dapat berarti kepribadian seseorang secara keseluruhan. Paulus membatasi arti kata itu di dalam ayat tersebut dan menjelaskan kepada para pembaca arti yang dimaksudkannya.

Apabila mempelajari suatu bagian Alkitab, janganlah melewati perkataan-perkataan yang sukar. Mungkin perkataan-perkataan itu sungguh mengubah arti teksnya dan perlu dipelajari. Dalam mempelajari arti suatu perkataan, pastikan empat hal:

  1. Bagaimana kata itu dipakai oleh penulis di bagian yang lain. Misalnya, perkataan ‘DOSA’ sangat penting bagi Rasul Yohanes, dan pengertian ini menolong kita mempelajari tulisan Yohanes.
  2. Hubungan perkataan itu dengan konteksnya. Apakah perkataan ‘selamat’ dalam pertanyaan kepala penjara sama dengan perkataan ‘selamat’ dalam jawaban Paulus kepadanya ? Kis 16:30*
  3. Kebiasaan pemakaiannya pada waktu penulisan. Untuk ini boleh pakai beberapa terjemahan atau tafsiran.
  4. Arti dasar suatu perkataan. Ini untuk orang yang akan mempelajari lebih dalam.

Terjemahan-terjemahan baru banyak menolong tetapi ada juga yang kurang tepat. Kejadian 11:1* pernah diterjemahkan, “Pada sesuatu waktu” seolah itu satu dongeng. Bahasa Ibrani mulai hanya dengan “dan”. Jadi, cobalah mengerti maksud penulis waktu ia menulis bagian Alkitab itu. Cobalah membebaskan diri dari pandangan yang berat sebelah ketika mempelajari sebagian dari Alkitab, dan berusalah mengerti pikiran-pikiran penulis ~~ bukan apa yang disangka yang seharusnya ditulisnya.

TATA BAHASA

Tafsirkanlah Bagian-Bagian Alkitab menurut TataBahasa dari Bagian itu.

Apakah “tata bahasa”? Apa artinya? Bagaimana dapat dipakai? Apa pentingnya? Apa hubungan dengan definisi dari satu kata.?

Ahli-ahli dari bidang ini menjelaskan bahwa “tata bahasa” terdiri dari dua hal:

a.    Bentuk dari kata-kata. 
b.   Hubungan di antara kata-kata.
Kedua-duanya mempengaruhi arti, tetapi disini kita secara khusus akan memperhatikan yang kedua. Kita perlu mengerti bagaimana hubungan satu kata dengan kata-kata yang lain di dalam kalimat atau konteksnya.

Sudah dijelaskan bahwa kata-kata selalu digunakan bersama-sama dan bukan secara tersendiri, dan bahwa mereka mempunyai arti yang jelas dalam hubungan demikian. Ketika satu kata dikombinasikan dengan kata-kata yang lain, apa arti yang muncul dan diketahui. Biasanya satu kata sendiri tidak punya arti yang jelas. Misalnya, kata “aduh” mungkin mempunyai arti tersendiri. Tetapi tidak jelas kepada yang mendengar ucapan itu. Apakah pembicara digigit nyamuk, duduk di atas kawat duri, dipukul temannya, atau senang karena baru menang undian besar? Kita perlu lebih banyak informasi untuk mengerti arti yang sebenarnya.

Jadi kata-kata, ketika digabung, menegaskan suatu pikiran dan pikiran itu dikomunikasikan kepada orang-orang yang lain. Agar supaya pikiran saya dapat dikomunikasikan kepada orang lain, kami berdua harus mempunyai pengertian yang sama mengenai bagaimana kata-kata dikombinasikan. Itu berarti kami berdua harus mengerti “tata bahasa” yang sama. Tata bahasa mengklasifikasikan cara-cara menggabungkan kata-kata.

Salah satu contoh dapat dilihat di Injil Yohanes 21:15* dimana ditulis, “..Yesus berkata kepada Simon Petrus: ‘Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?’”. Kemudian kita bertanya, ‘lebih daripada siapa atau apa’? Kita mengerti bahwa kata “mereka” dapat menunjuk kepada orang atau benda. Apakah ada orang-orang yang lain disana ketika Yesus berkata kepada Petrus? Memang beberapa murid Yesus. Apakah ada benda-benda yang dekat dengan Petrus? Betul. Banyak ikan baru ditangkap oleh murid-murid Yesus. Jadi, dengan pengertian tata bahasa dari ayat ini kita dibawa kepada dua kemungkinan dari kata “mereka”. Kita harus belajar lebih dalam lagi dan memakai prinsip-prinsip yang lain juga untuk menentukan kemungkinan mana yang dimaksudkan oleh Yohanes.

Kalau kita memperhatikan konteksnya, kita mengerti bahwa sesudah Yesus dibangkitkan lagi, Petrus kembali kepada pekerjaan dulu, menjala, walaupun sudah dipanggil Yesus dari pekerjaan itu. Jadi, kemungkinan Petrus mengasihi ikan-ikan (atau pekerjaannya) lebih dari Yesus. Petrus sendiri pernah mengatakan bahwa dia mengasihi Yesus lebih dari pada semua murid yang lain (Mat 26:33*), jadi mungkin Yesus sedang menantang dia mengenai perkataan itu.

Dengan melihat contoh di atas, kita dapat mengerti betapa penting prinsip tata bahasa. Mungkin kepada kita tidak selalu diberitahukan arti sebenarnya dengan mudah, tetapi kita dapat melihat beberapa kemungkinan yang baik. Jangan mengambil atau menerima arti dari suatu ayat atau kalimat yang melawan tata bahasa dari bagian itu.

MAKSUD DAN RENCANA

Tafsirkanlah menurut Maksud dan Rencana Penulis.

Setiap penulis Alkitab mempunyai MAKSUD dan RENCANA yang tertentu dalam menulis Kitabnya. Dua hal ini sangat dekat dan sulit dipisahkan, walaupun ada perbedaannya, jadi kita akan membahas mereka bersama-sama dalam prinsip ini.

MAKSUD

Penulis adalah obyek di dalam pikiran dia ketika menulisnya. Seperti yang dilihat di 1Yohanes 5:13*;

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, SUPAYA kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal”.  Maksudnya ditulis dengan jelas.

RENCANA

Penulis adalah cara menyusun penulisan sesuai dengan maksudnya. Yang ditunjukkan adalah struktur dari penulisnya, suatu struktur yang menentukan pola yang nyata-nyata nampak. Paulus menunjukkan pola demikian di dalam Kitab Efesus, karena tiga pasal pertama menjelaskan panggilan orang Kristen dan tiga pasal terakhir menjelaskan bagaimana dia harus berjalan. Satu kunci yang membawa kita kepada pengertian demikian adalah kata “Sebab itu” pada ayat pertama pasal keempat.

Dalam dua contoh tersebut, MAKSUD dan RENCANA penulis sangat mudah dilihat. Dalam prakteknya tidak selalu sedemikian mudah, oleh karena itu di dalam kebanyakan Kitab dalam Alkitab MAKSUD penulis tidak dijelaskan dan bahkan sulit ditafsirkan. RENCANA penulis jauh lebih kelihatan daripada MAKSUDnya.

Oleh karena itu kita terhalang di dalam menerapkan prinsip ini kalau tidak mengerti kedua-duanya, dan oleh karena sangat sulit mendapatkannya, prinsip ini lebih sukar dari pada beberapa prinsip yang lain, dan dengan demikian kemungkinan tidak akan dipakai banyak  di dalam pemahaman Alkitab pribadi kita. Tetapi prinsip ini tetap penting dan untuk memperdalam pengertian kita, marilah kita melihat beberapa  Contoh lagi, Yohanes menjelaskan dalam Injil Yohanes 20:31* Maksud dia untuk menulis Kitab tersebut:

tetapi semua (tanda-tanda dalam ayat 30) yang tercantum di sini telah dicatat, SUPAYA kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan SUPAYA kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.”

Ia menulis supaya orang-orang dapat percaya akan Yesus sebagai Anak Allah, dan melalui iman mereka menerima hidup yang kekal dari Kristus. Ada tiga kenyataan di dalam ayat ini:

  1. a.    Kepribadian Kristus
  2. b.    Iman
  3. c.    Hidup

dan Yohanes mengatakan bahwa ia menulis semua tanda dan mujizat supaya orang-orang dapat mengalami ketiga kenyataan tersebut. Dengan demikian kita dibawa kepada kesimpulan bahwa setiap tanda/mujizat dari Yesus akan menyatakan sesuatu mengenai salah satu dari ketiga kenyataan tersebut. Hal ini harus diingat pada waktu kita mau mengerti arti dari setiap mujizat Yesus di dalam Injil Yohanes.

Salah satu contoh lagi dari RENCANA penulis dapat dilihat dalam Kitab kejadian. Kalau Kitab ini dibaca akan diamati bahwa istilah “Inilah keturunan ______________” dipakai berulang kali ( Kejadian 2:4; 5:1; 6:9; 10:1; 11:10,27; 25:12,19; 36:1, 9; 37:2*). Begitu banyak kali satu perkataan dipakai bukan kecelakaan. Tetapi apakah pentingnya, dan bagaimanakah dapat dipakai dalam penafsiran Kitab ini? Untuk melihat kepentingan istilah tersebut, kita bisa membuat suatu tabel dengan beberapa kolom dan mendaftar fakta-fakta yang diterangkan dalam setiap kali istilah itu dipakai. Kemudian memahami tabel itu dan beberapa hal akan muncul dari padanya. Akan dilihat bahwa ada dua bagian yang pokok, yaitu Adam sampai kepada Abraham, dan Abraham s/d Yusuf.

Pertanyaan utama dalam menerapkan prinsip ini adalah apakah kita mengetahui MAKSUD dan RENCANA penulis. Berikut adalah beberapa saran yang akan menolong kita menjawab pertanyaan tersebut:

  1. Menentukan apakah MAKSUD dijelaskan atau tidak. Kalau tidak mencari tanda yang akan menolong.
  2. Menemukan RENCANA atau struktur dari Kitab. Kemungkinan ada bagian-bagian besar yang jela, dan kata-kata yang diulangi.
  3. Ketika MAKSUD dan/atau RENCANA jelas, mempelajari setiap bagian dari Kitab itu supaya semuanya ditafsirkan sesuai dengan MAKSUD dan/atau RENCANA itu

LATAR BELAKANG

Tafsirkanlah menurut Latar Belakang Sejarah, Geografis, dan Kebudayaan.

Ketika kita mempelajari suatu bagian Alkitab, sebaiknya kita memandang diri sebagai wartawan yang mencari fakta-fakta. Melacak bagian itu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti :

  1. Kitab ini ditulis kepada siapa?
  2. Apakah latar belakang penulisnya?
  3. Apakah pengalaman atau peristiwa yang mendorong Kitab ini ditulis?
  4. Siapakah tokoh-tokoh utama dalam Kitab ini?

Tujuannya ialah menempatkan diri di dalam zaman dan keadaan penulis supaya dapat merasakan bersama-sama dengan dia. Apakah beban-bebannya? Bagaimanakah pandangan Allah terhadap situasi mereka?

Pengertian tentang latar belakang Kitab Galatia akan menolong banyak dalam pengertian tentang arti dan pentingnya. Jemaat pertama di Yerusalem terdiri dari orang-orang Yahudi yang baru diselamatkan. Pada Hari Pentakosta (Kis 2:1-47*) kebanyakan yang diselamatkan adalah orang-orang bukan Yahudi. Asumsi yang dipegang dalam permulaan oleh orang-orang yang percaya adalah bahwa jalan masuk kepada Kristus adalah melalui agama Yahudi. Bukan keyakinan mereka, tetapi asumsinya.

Kemudian Kornelius serta keluarga menerima Kristus tanpa disunat dulu (Kis 10:1-48*), dan ini membuat pertanyaan besar diantara orang-orang Yahudi yang sudah percaya. Beberapa tahun kemudian, Paulus mulai melayani bukan hanya orang-orang yang berlatar belakang Yahudi yang lain, tetapi juga orang Yuani dan orang-orang kafir. Jemaat-jemaat dibentuk tanpa lebih dahulu memperhatikan hukum-hukum Keyahudian. Banyak orang Yahudi yang sudah percaya sulit menerima hal ini.

Ketika kembali ke Yerusalem, Paulus mengikuti sidang pemimpin-pemimpin dan bertanya kepada mereka, “Apakah orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa?,” “Bagaimanakah seorang dibenarkan dihadapan Allah?,” “Oleh karena iman kepada Kristus dan bukan oleh karena perbuatan-perbuatannya” jawab Paulus. Pemimpin-pemimpin di Yerusalem setuju dengan Paulus, dan dari saat itu berubahlah pandangan dan arah jemaat Kristus seterusnya. Mulai saat itu Kekristenan dipandang terpisah dari Keyahudian.

Bagaimanakah Paulus dapat menjelaskan hal ini kepada jemaat di Galatia? Paulus memakai banyak ayat dari Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa setiap orang harus diselamatkan oleh iman, mulai dari Abraham sendiri.

Alkitab bersifat progresif, yaitu maju bertahap. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan bagian dasar dari pernyataan Allah dan membentuk suatu kesatuan. Sering kita mendengar seorang berkata, “Allah dalam Perjanjian Lama berbeda dari Allah dalam Perjanjian Baru”. Kepercayaan ini dipegang banyak orang, tetapi tidak mempunyai dasar sama sekali dalam Alkitab, dan kepercayaan ini akan menghalangi penafsiran Alkitab yang benar bagi kita. Perjanjian Lama menjadi dasar untuk menafsirkan Perjanjian Baru dengan baik. Sangat berat mengerti Perjanjian Baru kalau kita tidak mengerti atau mengetahui isi Perjanjian Lama seperti penciptaan dunia atau kejatuhan manusia. Dari segi yang lain, Perjanjian Baru menjadi penjelasan bagi Perjanjian Lama, bagaimanakah Allah menyatakan diriNya dan bagaimana rencanaNya bersifat progresif.

Suatu ungkapan atau istilah mengandung arti tertentu di dalam satu kebudayaan atau waktu tetapi tidak berarti sama sekali dalam kebudayaan atau waktu yang lain. Arti dari ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah berubah dengan waktu dan kebudayaan, jadi kita perlu menggali teksnya supaya mengetahui artinya di dalam zaman yang ditulisnya. Dalam 2Raja 2:9* kita membaca,

“… berkatalah Elia kepada Elisa: ‘Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu’. Jawab Elisa: ‘Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu’”.

Di dalam beberapa kebudayaan ini berarti bahwa Elisa minta dua kali lipat dari roh Elia (mungkin Roh Kudus). Tetapi kalau mempelajari kebudayaan, ada kemungkinan yang muncul, yaitu bahwa Elisa minta warisan sebagai anak sulung; dia ingin menjadi ahli waris Elia. Jadi ingat bahwa arti sebenarnya dari suatu ungkapan atau istilah adalah arti dalam konteks kebudayaan dan sejarah. Bagaimana ini dimengerti oleh orang-orang dalam zaman itu?

Latar Belakang Mengandung Tiga Unsur :

A.  SEJARAH
1.    Dan 5:7,16* Daniel diberi kuasa sebagai orang ketiga oleh karena Belsyazar dan ayahnya memerintah bersama-sama.
2.    Mat 2:22* Dari sejarah kita tahu bahwa Arkhelaus lebih keras dan lebih mengancam Yesus dari pada ayahnya.

B.  GEOGRAFIS
1.    Yoh 4:4* Yesus harus melewati Samaria oleh karena propinsi itu di antara Yudea dan Galilea.
2.    Yes 35:2* Libanon, Karmel, dan Saron adalah tempat yang indah sekali.
C.  KEBUDAYAAN
1.      Luk 9:59* Menurut kebudayaan anak sulung bertanggungjawab menguburkan ayahnya. Kadang-kadang berarti berarti harus menunggu bertahun-tahun sebelum ia meninggal.
2.      Rat 5:4* Kayu biasanya gratis karena mudah di dapatkan. Ini menunjukkan keadaan yang ekstrem dan susah.Untuk menafsirkan dengan benar dalam keterangan latar belakang kita harus mengetahui dan mengerti latar belakang itu. Jadi persoalan yang pertama adalah mendapatkan informasi seperti itu. Dalam hal ini kita bisa memakai buku-buku seperti:

  • Kamus Alkitab.
  • Geografis Alkitab.
  • Komentar Alkitab.
  • Konkordasi Alkitab.

Sesudah informasi ini diperoleh, kemudian kita siap memikirkan penafsirannya. Untuk hal ini ada beberapa usul:

Langkah – Langkah Dasar :

  1. Memperhatikan hal-hal yang kurang jelas atau membingungkan dalam bagian itu dan catat bagaimanakah pengetahuan akan hal-hal itu akan menolong dalam penafsiran bagian itu.
  2. Memastikan apa arti bagian itu dalam zaman dan kebudayaan yang ditulisnya.
  3. Mencari dan mengerti artinya yang relevan bagi kita zaman ini, dan membuat penerapan sesuai dengan itu.

KESELURUHAN

Tafsirkanlah Sebagian Alkitab Menurut Keterangan dari Alkitab Secara Keseluruhan.

Tafsirkanlah Alkitab menurut Alkitab. Kalau semua prinsip yang lain dipakai dengan setia, tetapi menghasilkan penafsiran yang melawan pengajaran Alkitab secara umum, ada persoalan besar. Alkitab tidak melawan dirinya sendiri. Alkitab adalah kesatuan. Dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu pesan-pesan dari Allah tidak melawan sifat-sifat Allah maupun dirinya sendiri.

Kita sudah melihat dalam prinsip KONTEKS, bahwa satu ayat atau bagian harus dipelajari dalam konteks dengan ayat-ayat, paragraf-paragraf, dan pasal-pasal sekelilingnya. Maksud dari prinsip no. 6 ini adalah Alkitab seluruhnya menjadi konteks pokok dari bagian yang akan kita pahami.

“Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa”. Efesus 3:14*

Kemudian kita ambil kesimpulan bahwa posisi doa yang paling benar adalah “sujud” seperti disaksikan penulis kitab Efesus. Tetapi dengan demikian kita mengabaikan ayat-ayat yang lain yang menunjukkan berdiri, duduk, dan berbaring sebagai posisi yang lain yang dipakai oleh orang ketika berdoa. Apa lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa sikap hati orang lebih penting dari posisi tubuhnya dalam menyenangkan Allah.

Janganlah putus asa dan merasa gagal oleh karena terlalu sulit mengetahui seluruh Alkitab. Memang betul. Kita, yang kebanyakan orang awam, tidak mungkin akan mengerti atau menguasai seluruh Alkitab dalam hidup kita. Tetapi kalau kita mempunyai suatu sistem membaca, mempelajari, bahkan menghafal dari Alkitab dengan teratur, kita akan selalu bertumbuh dalam pengetahuan dan penerapan dari Firman Tuhan. Ini sangat penting oleh karena hampir semua doktrin palsu dan pengajaran palsu timbul di antara orang-orang Kristen sebab orang-orang yang mengajarkannya memakai hanya bagian-bagian atau ayat-ayat tertentu dan mengabaikan yang lain. Setiap pengajaran harus dipertimbangkan dengan dan dalam keterangan dari seluruh Alkitab.

Kitab Kejadian 3:1-5* menunjukkan bahwa Iblis adalah penafsir alkitab yang pertama. “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu:

‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’ Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah- tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati’. Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat’”.

Allah telah berfirman kepada Adam, kataNya: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej 2:16-17*). Iblis tidak menyangkal kata-kata Allah secara langsung. Tetapi ia mengubah artinya. Kesalahan seperti itu terjadi oleh karena dua hal: PENGHILANGAN atau PENAMBAHAN.

PENGHILANGAN- menghafal/mengutip hanya sebagian dari ayah atau konteksnya. Ada dua macam kematian di dalam Alkitab, jasmani dan rohani. Ketika Allah berkata kepada Adam, “pastilah engkau mati” (Kej 2:17*), itu berarti kedua-duanya; kematian jasmani dan kematian rohani. Tetapi ketika ular itu mengatakan kepada Hawa, “kamu tidak akan mati” (Kej 3:4*), ia dengan sengaja menghilangkan pengertian mengenai kematian rohani.

PENAMBAHAN - Mengatakan lebih dari apa yang dikatakan Alkitab. Dalam pembicaraan dengan ular itu, Hawa mengutip kembali apa yang dikatakan Allah kepada Adam. Tetapi ia menambah kata-kata “ataupun raba buah itu” (Kej 3:3*). Tidak jelas apakah dia menambah dengan sengaja atau tidak, tetapi biasanya manusia mempunyai motivasi untuk membuat perintah Allah keterlaluan dan dengan demikian membuat perintah itu tidak layak ditaati.

Penerapan dari penjelasan tersebut ialah pentingnya memakai ayat-ayat dari bagian-bagian lain dari Alkitab sendiri. Ketika kita mempelajari sebuah pasal atau paragraf itu dan bukan hanya satu kata atau ungkapam. Alkitab akan menafsirkan dirinya sendiri kalau kita menggunakan Prinsip-prinsip Penafsiran dengan benar.

Langkah-Langkah Dasar:

1.    Membaca banyak  dari Alkitab

  • Saat teduh (ibadah pribadi)
  • Bacaan sehari-hari
  • rencana membaca seluruh Alkitab setiap tahun

2. Mempelajari dengan teratur dan setia

  • Dengan kelompok
  • Secara pribadi

JELAS DAN LENGKAP

Tafsirkanlah Ayat-Ayat yang Kurang Jelas berdasarkan Ayat-Ayat atau Bagian-Bagian yang Lebih Jelas dan Lengkap.

Prinsip ini sangat dekat dengan prinsip no. 6, tetapi ada beberapa hal yang berbeda. Prinsip no. 6 jauh lebih umum dan dengan demikian seluruh Alkitab dianggap sebagai konteks bagi ayat/bagian apa saja yang dipelajari. Tetapi prinsip ini lebih spesifik dan akan menunjukkan beberapa hal yang khusus mengenai teks yang kurang jelas atau tidak lengkap. Tujuan dari prinsip ini adalah untuk menekankan bahwa:

  1. Ayat-ayat atau bagian-bagian yang kurang jelas selalu menyerah kepada ayat/bagian yang lebih jelas dan lengkap.
  2. Kalau tidak ada penjelasan dari Alkitab seluruhnya, jangan membuat atau memegang doktrin atau prinsip hidup dari satu ayat/bagian yang tidak jelas.

Ketika kita menemukan ayat/bagian yang tidak jelas kita menjadi bingung dan mengalami frustasi. Jangan putus asa atau berhenti mencari penyelesaian. Ada tiga kemungkinan dalam penyelesaian soal tersebut:

Hal yang kurang jelas

  1. diterangkan dengan lengkap di bagian yang lain.
  2. dinyatakan secara tidak langsung (implikasi) dibagian yang lain.
  3. sama sekali tidak diajarkan / diterangkan di bagian yang lain.

Mari kita lihat beberapa contoh dari setiap kemungkinan di atas.

1.    DITERANGKAN
Kebenaran Abraham  Kej  15:6* Percaya kepada TUHAN
Rom  4:18-21* Ibr 11:11-12

Kristus sebagai imam Yes 61:1-3*  Diurapi Tuhan Ibr  2:17; 3:1; 4:14-15*
2.    IMPLIKASI
Mrk 12:18-27*  Kebangkitan Orang Mati
Persoalan ini timbul dalam zaman Yesus dan orang-orang Saduki bertanya kepada Dia. Dia menjawab begini: (Mrk 12:26-27*) “…tidaklah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagamana bunyi firman Allah kepadanya: ‘Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub?’ Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”.

Yesus mengutip Kel 3:6* dimana Allah mengidentifikasikan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah adalah Allah orang hidup, bukan orang mati, jadi Abraham, Ishak, dan Yakub adalah orang yang hidup ~~ bukan mati, Yesus memakai jalan pikiran yang disebut “deduktip”.

Dasar pemikiran yang dipakai Yesus adalah:

  1. Allah adalah Allah orang hidup
  2. Allah adalah Allah Abraham, Ishak, Yakub

Kesimpulan — Abraham, Ishak, dan Yakub adalah orang hidup, jadi ada kebangkitan dari maut. Doktrin kebangkitan diajarkan di dalam Perjanjian Lama walaupun tidak secara langsung. Ada banyak “implikasi” mengenai hal itu.

Mrk 1:35* Apakah Orang Kristen yang setia harus BERSAAT TEDUH pada pada pagi hari.

Dasar Pikiran:

  1. Yoh 13:15* Dia menjadi teladan bagi kita 1Pet 2:21*
  2. Mazm 119:147* Contoh Daud
  3. Markus 1:35* Kristus bersaat teduh pagi hari (tidak dibuat sebagai contoh tetapi karena memerlukan waktu dengan Allah BapaNya.)

Kesimpulan — Sebaiknya orang Kristen bersaat teduh pada pagi hari.

3.    TIDAK DITERANGKAN

  • Membasuh Kaki Orang

Yoh 13:1-17*  Yesus melakukannya dan menjelaskan maksudnya. (Dibuat sebagai contoh melayani)

1Tim 5:10*  Syarat didaftarkan sebagai janda.

Hanya dua bagian ini yang menerangkan hal ini. Tidak diambil sebagai kebiasaan dalam  gereja pertama.

Apakah hal ini harus dilakukan oleh semua orang Kristen.? Apa bedanya hal ini dengan hal di Mrk 1:35.?

  • Hiasan Kepala Wanita

1Kor 11:2-16*  Menudungi kepala…. Dengan hal ini harus menggunakan prinsip Latar Belakang.

  1. Apakah hal ini kebiasaan dalam kebudayaan Yahudi dan Roma dalam zaman itu.?
  2. Apakah hal ini dipakai sebagai lambang dari kebenaran yang Alkitabiah.?
  3. Apakah hal ini menunjukkan persoalan dalam jemaat di kota itu.?
  4. Apakah hal ini menerangkan kelemahan penundukan kaum wanita disitu.?
  • Wanita bicara di Gereja

1Kor 14:34-36* berdiam diri di pertemuan-pertemuan jemaat. (Menjawab semua pertanyaan diatas.)

Langkah-Langkah Dasar :

  1. Mencari ayat/bagian yang menerangkan dan memperlengkapi hal yang tidak jelas.
  2. Menggunakan semua prinsip yang lain ketika mempelajari soal seperti ini.
  3. Kalau sesuatu diajarkan secara tidak langsung, hati-hati supaya tidak melawan kebenaran dari seluruh Alkitab.
  4. Sambil mempelajari dan mencari keterangan dari bagian yang lain, berdoalah dan minta pimpinan Allah dan Roh Kudus.
  5. Jangan menjadi dogmatis mengenai hal yang kurang jelas dan tidak lengkap dan yang tidak didukung dari ayat atau bagian yang lain dari Alkitab.

BAGIAN KHUSUS

Tafsirkanlah dengan memperhatikan Gaya Penulisan yang Khusus.

Selain prinsip-prinsip umum yang menolong dan memimpin dalam penafsiran akan macam-macam tulisan, setiap macam tulisan memerlukan perhatian secara khusus. Dalam bagian ini kita akan melihat bagaimana hal-hal khusus dapat ditafsirkan dengan benar dan tidak melawan bagian-bagian Alkitab yang lain :

Daftar isi bagian ini :

  1. Kata-kata Kiasan
  2. Lambang-lambang
  3. Gambaran-gambaran
  4. Perumpamaan-perumpamaan
  5. Idiom-idiom Bahasa Ibrani
  6. Puisi
  7. Nubuatan
  8. Doktrin

P E M B A H A S A N 

KATA-KATA KIASAN

Kata kiasan adalah suatu kata atau kombinasi kata-kata yang dipakai dengan cara lain dari pada yang wajar dan sesungguhnya. Orang-orang Kristen diperhatikan “berdiri teguh” di dalam Kristus. Apakah itu berarti bahwa seorang Kristen harus berdiri terus dan tidak bisa duduk? Tidak mungkin; tetapi apa artinya? Ada banyak kata kiasan di dalam pembicaraan setiap hari. Kata-kata kiasan itu tidak benar dalam arti sesungguhnya tetapi mengandung kebenaran. Mereka dipakai untuk menunjukkan suatu kebenaran dalam cara yang berbeda, supaya lebih menarik dan hidup. Kita menangkap artinya tanpa berhenti dan memikirkan apakah perkataan itu yang sesungguhnya atau kata kiasan. Biasanya kita menterjemahkan dengan otomatis. Sangat penting bahwa kita mengamati kata-kata kiasan itu walaupun kadang-kadang tidak begitu kritis apakah kata itu sesungguhnya atau kiasan. Tetapi kadang kala sangat penting. Misalnya, dalam zaman Reformasi, pemimpin-pemimpin Reformasi itu sedang membahas Firman Tuhan mengenai perjamuan kudus, khususnya kata-kata Yesus, “inilah tubuhKu”. Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa perkataan itu adalah sesungguhnya, dan dengan demikian roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Tetapi pemimpin-pemimpin Reformasi tetap berpendapat bahwa perkataan itu adalah metafora, yaitu bahwa roti dan anggur mewakili tubuh dan darah Kristus dan bahwa Kristus  berada di dalam perjamuan kudus secara rohani dan bukan jasmani. kedua belah pihak tidak ada persetujuan, kemudian terjadi pemisahan diantara mereka. Jadi kadang-kadang hal ini dapat menjadi soal yang sangat besar.

Alkitab mempunyai beberapa macam Kata Kiasan:

METAFORA — membandingkan satu dengan yang lain.

“aku adalah ular”

“Allah adalah Gunung Batu kita”

TAMSILAN (simile) — menghubungkan satu dengan yang lain.

“aku seperti ular”

“Allah seperti Gunung Batu kepada kita”

PERSONIFIKASI — bicara mengenai hal yang tidak hidup seolah-olah hidup.
“Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan.” Mazm 98:8*

“Bersorak-sorailah, hai langit” Yes 44:23*

PENYANGATAN (hyperbole) — Pernyataan yang dilebih-lebihkan.
“Air mataku berlinang seperti aliran air,” Mazm 119:136*

IRONIS — berlawanan dengan arti yang sebenarnya.

2Samuel 6:20*  menelanjangi dirinya.

1Korintus 4:8* menjadi raja.

LAMBANG-LAMBANG (SIMBOL)

Lambang berarti sesuatu (orang, nama, benda, nomor, warna, kelakuan, dll.) yang mengusulkan atau memberikan arti yang melebihi arti yang wajar dan biasa. Kita semua memakai lambang-lambang setiap hari dalam komunikasi dengan orang-orang yang lain. Lambang-lambang dipakai untuk menunjukkan kebenaran atau untuk menyembunyikan kebenaran. Alkitab tidak mengidentifikasikan lambang-lambang yang dipakai di dalamNya. Jadi kita harus mempelajarinya dengan hati-hati.

Satu benda bisa dipakai untuk melambangkan lebih dari satu hal. Air digunakan sebagai lambang penyucian dan juga lambang penghancuran. Warna merah biasanya dipakai sebagai lambang darah Kristus, tetapi warna sama itu dipakai juga untuk beberapa hal yang lain :

  • Yes 63:2*    Penghakiman,
  • Ams 23:31*  Anggur
  • Nah 2:3*    Perisai
  • Yes 1:18*    Dosa
  • Mat 16:2*    Langit

Kadang-kadang Alkitab memakai nomor-nomor dengan cara yang menunjukkan arti yang simbolis. Nomor yang paling terkenal adalah tujuh. Tidak ada satu ayat yang mengatakan bahwa nomor tujuh adalah lambang, tetapi dari jumlah ayat (600+) yang memakai nomor itu kita lihat implikasinya. Kesimpulan dari ayat-ayat ini adalah bahwa nomor tujuh mengandung arti penyelesaian, kesempurnaan dan keseluruhan. Ada juga banyak ayat yang hanya menggunakan arti sebenarnya dan tidak sebagai lambang. Ada nomor yang lain juga 

yang sering dipakai sebagai lambang, misalnya: tiga, empat, enam, duabelas, dan empatpuluh.

Langkah-Langkah Dasar:

  1. Mempelajari cara yang dipakai Alkitab untuk menafsirkan lambang-lambang.
  2. Memperhatikan sifat dasar dan kwalitas wajar ketika mempelajari benda-benda alami.
  3. Selalu mengamati konteks. Biasanya konteks akan mengartikan lambang-lambang.
  4. Menghindari spekulasi atau arti sewenang-wenang. Kalau tidak dibuktikan langsung, lebih baik dianggap sebagai kemungkinan.

GAMBARAN-GAMBARAN

Gambaran-gambaran menerangkan/menunjukkan aspek-aspek dari kebenaran Alkitab yang sangat indah dan berharga bagi kita. Ada macam-macam gambaran yang dipakai:

  • orang — Adam, Musa, Elia
  • kejadian — air bah, penyebrangan Laut Merah
  • benda — mesbah, domba, ukupan
  • kebiasaan — paskah, pesta-pesta
  • tempat — Kana, Yerusalem
  • jabatan — nabi, iman

Gambaran merupakan sesuatu macam di atas yang sesungguhnya terjadi dalam Perjanjian Lama sebagai tanda, dengan maksud Ilahi, yang mencerminkan kenyataan rohani dalam Perjanjian Baru.

  • Yusuf       Kej 37:1-50:26*    Gambaran Kristus
  • Yunus      Yun 1:1-2*          Gambaran Kristus
  • Imam Besar  Ibr 4:1-14*          Gambaran Kristus

Langkah-Langkah Dasar:

  1. Ingat bahwa biasanya gambaran-gambaran adalah hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi.
  2. Gambaran-gambaran adalah hal yang jasmani yang membawa kepada realitas-realitas rohani.
  3. Penggenapannya selalu lebih penting dari pada gambarannya.
  4. Penggenapannya secara rohani selalu timbul dari arti gambaran yang sebenarnya.

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

Biasanya perumpamaan didefinisikan sebagai:

  • Sebuah cerita
  • Yang mengandung kebenaran hidup
  • Yang tidak sungguh terjadi
  • Dengan maksud menerangkan kebenaran rohani/moral

“Cerita duniawi dengan arti sorgawi”.

Mat 22:2*, “Hal kerajaan surga seumpama _____________________”

Perumpamaan mempunyai tiga unsur: keadaan, ceritera, dan penerapan. Keadaan dan penerapan adalah sebagian dari cerita. Ketika keadaan dan penerapan sangat jelas, penafsirannya juga sangat mudah. Tanpa satu atau dua hal tersebut, tugas kita menjadi jauh lebih sulit.

Perumpamaan juga mempunyai satu tema atau inti pokok. Mereka tidak mengatakan banyak hal, hanya satu. Kita mencari satu pelajaran rohani saja. Kita mengetahui hal itu oleh karena Yesus sendiri menerapkan perumpamaanNya demikian (Lukas 15:1-32*). Ada dua perkecualian dari perkataan tersebut, yaitu Mat 13:1-58 dan Mat 20:1-34* dimana kelihatannya Yesus menerapkannya beberapa hal dari setiap perumpamaan.

Kita tahu bahwa Yesus menggunakan beberapa perumpamaan lebih dari satu kali. Perumpamaan mengenai domba yang hilang ditemukan di Mat 18:35* dan juga Luk 15:32* dengan keadaan yang lain tetapi pelajaran pokok yang sama.

Langkah-Langkah Dasar :

  1. Membaca dan mempertimbangkan perumpamaan sebagai cerita biasa. (arti rohani berdasarkan arti yang wajar).
  2. Memperhatikan keadaan di mana perumpamaan diberikan. (penting dalam mencari arti rohani)
  3. Mencari inti pelajaran yang pokok. Itu dilihat dari penerapan yang diambil atau dari cerita sendiri.
  4. Mengecek artinya perumpamaan dengan pengajaran Alkitab secara keseluruhan
  5. Kalau ada kesulitan dengan mengerti perumpamaan, sebaiknya mempelajari latar belakang kebudayaan dan sejarah.

IDIOM-IDIOM BAHASA IBRANI

Idiom adalah ucapan khusus bagi suatu bahasa. Setiap bahasa manusia mempunyai idiom-idiom. Mereka menunjukkan cara pikiran dari orang yang memakai suatu bahasa tertentu. Salah satu idiom dari bahasa Inggris adalah, “six of one or a half a dozen of the other,” yang berarti bahwa dua hal tidak berbeda. Bahasa Ibrani juga mempunyai banyak idiom, dan hal ini dapat membuat persoalan bagi kita, oleh karena itu kita tidak mengerti idiom-idiom bahasa Ibrani kalau tidak berbahasa Ibrani.

Kadang-kadang idiom-idiom hanya kata kiasan, tetapi mereka khusus bagi bahasa Ibrani, jadi kita akan memperhatikan mereka secara khusus. Misalnya, Yes 40:11*;

“Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya”; 

Apakah Allah mempunyai tangan seperti manusia? Apa artinya? Atau, bagaimanakah seandainya Yoh 14:1*,

“janganlah gelisah hatimu”: diterjemahkan dalam bahasa lain:

“Janganlah gelisah ginjalmu” ataukah “Janganlah gelisah pankreasmu”

oleh karena hati Bukan Pusat Emosi dalam bahasa itu?

Ada banyak macam Idiom. Di sini kita akan melihat hanya beberapa.

1Bentuk manusia — seolah-oleh Allah adalah manusia dan mempunyai tangan, muka, mata, telinga, dsb. Mazm 10:11,17; 17:15; 18:16; Yes 34:16*

2Absolut bagi yang relatif — mengucapkan sesuatu yang relatif dengan cara yang absolut.

maksudnya:

  • absolut.!— Edi mengasihi Tuti.
  • Relatif.!— Edi mengasihi Tuti lebih dari Siwi.

Lukas 14:26* “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya…” dll Inilah hal yang relatif, tetapi diucapkan dengan cara yang absolut.

3Relatif bagi yang absolut — mengucapkan sesuatu yang absolut dengan cara yang relatip.

Lukas 11:31-32* “…ada di sini lebih daripada Salomo! … ada disini lebih daripada Yunus”. (Anak Manusia) Inilah hal yang absolut, tetapi diucapkan dengan cara yang relatif.

4“Anak dari ____________”

  • · “anak Daud” — keturunannya
  • · “anak penghiburan” — sifatnya
  • · “Israel anakKu” — bangsa
  • · “anak Israel — penduduk

Langkah-Langkah Dasar :

  1. Mempelajari idiom-idiom dan kemungkinan-kemungkinan artinya.
  2. Bertanyalah kepada teks, “Apakah ini berarti sungguh-sungguh”. Kalau tidak cocok kemudian mempertimbangkannya sebagai idiom.
  3. Menilai situasi, keadaan, dan konteks. Hampir selalu akan melihat satu kunci untuk menafsirkannya.

P U I S I

Puisi adalah cara mengucapkan perasaan dan pikiran dari hati manusia. Agak sulit didefinisikan, tetapi ketika dilihat, mudah diakui sebagai puisi, bukan hanya di dalam Mazmur dan Amsal, tetapi juga Ayub, Kidung Agung, Ratapan, dan Nabi-nabi. Ada beberapa macam bentuk puisi.

  1. Ulangan — dua baris mengatakan hal yang sama dengan kata yang berbeda.
    Mazm 33:2* “Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagiNya dengan gambus sepuluh tali!”
  2. Kontras — dua baris mengatakan hal yang berlawanan, bahkan bertentangan.
    Ams 15:1* “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”.
  3. Tambahan — baris kedua menambah kepada pikiran dari baris pertama.
    Tamsil — kata-kata kiasan (melihat A.)
  4. Luar biasa — Emosi yang kuat atau Bahasa yang ekstrem.
    Ayub 16:12-13* “Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkapNya pada tengkukku, lalu dibantingNya, dan aku ditegakkanNya menjadi sasaranNya, Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembusNya dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkanNya ke tanah”.

Langkah-Langkah Dasar :

  1. Mempelajari dua atau tiga sajak dari puisi. Melihat hubungan satu sama yang lain. Mencari kata-kata hubungan yang khusus.
  2. Memperhatikan kata-kata kiasan. Menganalisa dan menafsirkannya menurut bagian A.
  3. Mempertimbangkan semua kata yang luar biasa, ekstrem, atau keras. Bertanya, “Apakah maksudnya bahasa itu?”

N U B U A T A N

Pernah dikatakan bahwa ketika mempelajari nubuatan kita menafsirkan persoalan-persoalan yang paling besar dalam penafsiran. Kemungkinan benar, tetapi kita tidak perlu keci hati atau takut. Nubuatan adalah salah satu bagian Alkitab yang penting dan kita harus berusaha dengan tekun supaya mengetahui rencana Allah untuk masa depan.

Seorang nabi adalah jurubicara bagi yang lain.

Kitab Keluaran 4:16 dan Keluaran 7:1* menjelaskan, “Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya”. “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa; “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu”.

Nabi Allah adalah seorang yang bicara untuk Allah dengan memberikan pesan-pesanNya. Ia bicara kepada manusia mengenai hal yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Kebanyakan nubuatan adalah hal-hal yang akan terjadi. Nubuatan semacam ini ditemukan di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ada nubuatan yang:

  • Dalam P.L. dan segera terjadi — Kel 14:4*
  • Dalam P.L. dan digenapi dalam P.L. — Yos 6:26; 1Raj 16:34*
  • Dalam P.L. tetapi digenapi dalam P.B. — Kristus
  • Dalam P.L. dan sebagian digenapi dalam P.B. — Luk 4:16-21*
  • Dalam P.B. dan digenapi dalam P.B. — Mat 16:21*
  • Dalam P.L. maupun P.B. dan belum digenapi — Kedatangan yang kedua.

Sifat-Sifat Dasar:

  1. Perspektif — pandangan nabi
  2. Unsur waktu — dekat atau jauh
  3. Kata kiasan dan simbul — sungguh-sungguh atau kiasan?
  4. Tatabahasa yang khusus — kata kerja dan waktu
  5. Bersyarat atau tidak — kebanyakan tidak bersyarat
  6. Menyatakan atau menyembunyikan — ada yang jelas-ada yang tidak jelas

Contoh: Kej 3:15*

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini,

antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu,

dan engkau akan meremukkan tumitnya”.

  1. Perspektif — Dua Kedatangan Kristus
  2. Unsur waktu — Hidup Hawa, tetapi juga masih jalan
  3. Kata kiasan dan simbul — “Meremukkan kepala” dan “tumitnya”
  4. Menyatakan atau menyembunyikan

-perlu keterangan dari bagian lain

-tema — konflik

-tema — rencana Allah yang berdaulat

-tema — Mesias yang akan datang

— penderitaanNya

— kemenanganNya

Langkah-Langkah Dasar:

  1. Mempelajari nubuatan dalam P.L bersama penafsiran yang diberikan disitu.
  2. Cobalah mengerti maksud nubuatan bagi orang dalam zaman sama, bagaimanakah akan digenapi, dan pesan yang praktis.
  3. Mempertimbangkan arti yang sungguh-sungguh dan penggenapannya.
  4. Ingatlah sifat-sifat nubuatan yang dibahas tersebut.
  5. mencari kata kiasan, simbul, idiom-idiom, dll.

D O K T R I N

Doktrin adalah kebenaran, yaitu pengajaran-pengajaran Allah yang benar, yang ada di dalam Alkitab. Kata “Doktrin” dipakai dengan dua cara:

  • Secara Umum — Semua harapan
  • Secara Khusus — Salah satu kebenaran yang penting, misalnya: Dosa atau keselamatan.

Menurut Paulus, 2Tim 3:16*, “Segala tulisan … bermanfaat untuk mengajar,….” dengan arti doktrin. Salah satu manfaat dari Firman Tuhan adalah doktrin. Dan tujuannya sangat jelas juga dari 2Tim 3:17*, supaya “tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. Dalam pendekatan kita kepada doktrin-doktrin Alkitab, kita harus mulai dengan beberapa keyakinan dasar.

  1. Alkitab mengandung semua doktrin yang diperlukan.
  2. Alkitab mempunyai cukup keterangan sebagai sumber doktrin.
  3. Alkitab menunjukkan doktrin dengan konsisten dan jelas.
  4. Kita dapat mengerti doktrin oleh cara memahami semua bagian yang bersangkutan dengan doktrin itu.
  5. Kita tidak akan mengerti semua aspek dari Allah.
  6. Kita akan menemukan kebenaran yang kelihatan suatu paradoks. Misalnya: Kristus adalah Allah dan manusia.
  7. Tujuan doktrin adalah untuk mengubah kehidupan kita.

Pelajaran Pribadi :

  • Doktrin Keselamatan
  • Doktrin Dosa
  • Doktrin Kedatangan Kristus Yang Kedua
  • Doktrin Iblis
  • Doktrin Allah
  • Doktrin Roh Kudus

PENGALAMAN PRIBADI

Tafsirkanlah Pengalaman Pribadi berdasarkan Alkitab dan Bukan Sebaliknya.

Ketika kita membaca Perjanjian Baru, kita melihat bahwa ada dua macam kesusasteraan ~~ yang bersifat cerita dan yang bersifat pengajaran (kebanyakan dari Wahyu dan sebagian dari Injil-Injil adalah nubuatan). Bagian-bagian yang bersifat cerita mengikuti kehidupan Kristus di dalam Injil-Injil, dan sejarah gereja mula-mula di dalam Kitab Para Rasul. Surat-surat dari Paulus dan dari orang yang lain ditulis untuk mengajar anggota-anggota gereja mula-mula itu bagaimana hidup dan bertumbuh di dalam Kristus.

Kalau kita mempelajari bagian-bagian yang bersifat pengajaran kita mengamati bahwa penulis-penulis tidaklah mengatakan bahwa oleh karena salah satu hal terjadi, maka itu membuktikan suatu prinsip adalah benar. Tetapi, penulis-penulis bagian tersebut justru bermaksud sebaliknya. Oleh karena suatu prinsip adalah benar kemudian salah satu hal terjadi. Misalnya; Perjanjian Baru tidak mengajar bahwa kebangkitan Kristus dari kematian membuat Ia Anak Allah. Tetapi sebaliknya, yaitu oleh karena Kristus adalah Anak Allah, Ia bangkit dari maut.

Sering kita melihat di dalam Alkitab adanya suatu perkataan kemudian pengalaman terjadi untuk membuktikan atau mengesahkannya. Misalnya; kita membaca di kitab Ulangan 18:22* sebuah ujian bagi orang yang mengatakan bahwa dia adalah seorang nabi dari Allah; “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya”.

Ahazia, anak Ahab dan Izebel, adalah Raja Israel, kerajaan utara. Oleh karena dosanya, nabi Elia bernubuat bahwa Raja Ahazia akan meninggal. Raja Ahazia mengutus seorang perwira dengan kelima puluh anak buahnya untuk menangkap nabi Elia. “Tetapi Elia menjawab, katanya kepada perwira itu: ‘Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu’. Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya”. Nubuatan Elia disertai dengan penggenapannya, dan dengan demikian membuktikan bahwa Elia adalah seorang nabi yang benar dari Allah. Nubuatannya disertai dengan buktinya.

Pengalaman pribadi adalah bagian yang sangat penting di dalam kehidupan seorang Kristen, tetapi kita harus berjaga-jaga agar supaya kita memelihara pandangannya yang paling tetap. Walaupun kita belajar dari pengalaman-pengalaman, itu tidak bisa menjadi dasar untuk menafsirkan atau menilai Alkitab.

Cerita-cerita dan pengajaran-pengajaran Alkitab cocok sekali dengan pengalaman-pengalaman kehidupan seseorang. Makin banyak waktu dipakai untuk mempelajari Alkitab, makin banyak kebenaran Alkitab tertanam di dalam kehidupan kita. Kelihatannya Kitab-kitab Suci ditulis bagi kita masing-masing karena begitu tepat dan hidup penerapan-penerapannya.

Oleh karena penjelasan tersebut, kita harus hati-hati supaya prinsip ini tidak terbalik. Kita harus membiarkan Firman Tuhan menafsirkan dan membentuk pengalaman-pengalaman kita untuk menafsirkan Firman Tuhan.

SEJARAH GEREJA

Sejarah Gereja Penting tetapi Tidak Mutlak dalam Penafsiran Alkitab.

Dalam Pengertian Dasar, kita sudah melihat bahwa ada tida hal yang menjadi dasar kekuasaan; tradisi, rasionalisme, dan Alkitab. Walaupun semua sangat penting dan dapat dipakai di dalam konteksnya, tradisi dan rasionalisme harus menyerah kepada alkitab ketika ada perselisihan. Firman Tuhan adalah otoritas yang mutlak dan yang terakhir. Disini kita akan melihat pentingnya tradisi atau sejarah gereja.

Banyak doktrin yang dianggap sangat penting di antara orang-orang Kristen dinyatakan secara tidak langsung di dalam Alkitab. Oleh karena hal ini dinyatakan secara tidak langsung dan tidak langsung dijelaskan, dalam permulaan gereja, hal itu adalah topik-topik yang kontroversial. Kita berhutang kepada bapak-bapak leluhur di dalam sejarah gereja oleh karena beberapa topik yang kontroversial itu sudah diselesaikan. Ada beberapa tulisan bapak-bapak tersebut yang menjelaskan hal-hal ini dan sampai hari ini masih dapat dibaca.

Salah satu doktrin yang menjadi persoalan besar di dalam permulaan gereja adalah KEILAHIAN YESUS KRISTUS, yaitu bahwa Dia adalah yang kekal dan adalah Allah. Dia sungguh-sungguh Allah. Doktrin ini sangat Alkitabiah, Doktrin ini diajarkan dan ditunjukkan di dalam beberapa bagian Alkitab. Salah satu ialah ayat-ayat pertama dari Injil Yohanes; “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah …. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya,” (Yoh 1:1,14*). Penafsiran yang benar dari ayat-ayat ini dan banyak ayat yang pertumbuhan kedewasaan gereja atau jemaat Allah. Kita sangat berhutang kepada mereka yang bergumul, berdoa, mempelajari dan bahkan sampai berdebat supaya doktrin ini dapat dimengerti dan diajarkan kepada kita dengan jelas.

Akibat wajar dari prinsip tersebut adalah:

  • Gereja tidak menentukan pengajaran-pengajaran Alkitab, tetapi Alkitab menentukan pengajaran-pengajaran gereja.

Penafsiran-penafsiran gereja berkuasa hanya sejauh itu cocok atau harmonis dengan pengajaran-pengajaran Alkitab secara keseluruhan. Sejarah tidak dimaksudkan menentukan penafsiran-penafsiran Alkitab, oleh karena ada beberapa waktu ketika gereja tidak setia kepada Allah ataupun Firman Allah. Dalam sejarah abad pertengahan gereja mengajarkan bahwa hamba-hamba Allah harus hidup sebagai bujangan dan tidak boleh menikah. Dalam abad-abad berikutnya, beberapa hal yang lain ditafsirkan dan diterapkan oleh gereja. Ini adalah ketentuan dari gereja dan bukan dari Alkitab. Penafsiran-penafsiran dari gereja harus dipelajari dengan teliti dan dinilai berdasarkan keterangan dan kenyataan yang sudah jelas dari Alkitab.

Akan tetapi, dengan peringatan ini, kita tidak berhak merendahkan pentingnya sejarah gereja. Itu dapat memberi kepada kita pengecekan dan keseimbangan yang sangat menolong di dalam program mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab.

K E S I M P U L A N

Jangan lupa: Tujuan utama dari Alkitab adalah untuk mengubah dan memperbarui kehidupan kita, bukan untuk menambah pengetahuan saja. Dengan demikian, tujuan prinsip-prinsip penafsiran yang baru dipelajari adalah untuk mengerti maksud penulis Alkitab, supaya kebenaran-kebenaran yang ditemukan dalam Alkitab dapat diterapkan dengan sungguh-sungguh dan benar. Harapan penulis buku ini adalah bahwa bahan ini akan menolong banyak orang bertumbuh dalam pengertian dan penerapan akan Firman Tuhan.

Masih ada banyak prinsip yang lain yang dapat dipahami. Prinsip-prinsip yang dijelaskan disini hanya permulaan, dan ditulis sesederhana mungkin supaya orang-orang kaum awam dapat mengerti dan memakai tanpa kesulitan. Jangan merasa putus asa oleh karena terlalu berat, tetapi memutuskan dan merencanakan bertumbuh langkah demi langkah. Akan perlu banyak waktu – seumur hidup, tetapi tidak perlu mendaftarkan diri di satu sekolah Alkitab atau sekolah teologi untuk mempelajari hal ini.

Banyak bagian Alkitab masih sulit ditafsirkan, tetapi kita tahu cukup banyak yang masih perlu diterapkan hari ini. Besok kita akan mengerti lebih banyak lagi. Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit! Dalam setiap langkah kita harus tetap berdoa dan percaya kepada Allah bahwa Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Sebenarnya kita mulai menafsirkan fakta-fakta pada hari kita dilahirkan. Setiap hari kita menafsirkan informasi yang didapatkan melalui mata, telinga, hidung, mulut, dan sentuhan kita. Jadi proses ini seharusnya tidak sulit atau aneh bagi kita semua. Kita hanya perlu mempelajari hukum-hukum yang mengarahkan kita kepada fakta-fakta yang penting yang perlu ditafsirkan supaya kita menjadi anak Allah yang tidak malu, tetapi bisa mengerti dan memakai Firman Tuhan dengan cara yang benar dan memuliakan Allah. ( WJ )

Comments are closed.

NUSWANTORO

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

wahyudijaka

Adapun hidupku ini bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

prophetbrahmarishi

Just another WordPress.com site

stillness of heart

MUSINGS : CRITICISM : HISTORY : PASSION

Digestible Politics

Politics Made Easy!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: